USER LOGIN

Masuk

 

 

Get Connected          RSS  

kunjungan-semen-padang.jpg

Impian Tiga Pemegang Pensil

Sebuah renungan yang muncul di keheningan malam membuat seorang pemuda memikirkan impian untuk masa depannya. Namanya Ardiansyah, biasa dipanggil temannya dengan panggilan Ardi, seorang yang hanya memiliki sebuah pensil yang tidak terlalu bernilai harganya. Namun, dengan pensil itu ia yakin ia mampu mengguncang dunia.

Terlintaslah di pikirannya sesosok tokoh inspiratif yang telah berhasil menaburkan berjuta kejayaan dengan “pena emasnya”. Ia yakin bahwa suatu saat, dengan pensil yang dipegangnya, ia akan mengikuti jejak “the Master of Research” si pemegang pena emas tersebut. Ia pun memejamkan mata untuk beristirahat dengan harapan sewaktu ia terbangun, semua akan berubah menjadi lebih baik dengan sekejap mata.

Keesokan hari saat membuka mata, tak ada sedikitpun perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia pun berkata, “harus ada usaha yang kulakukan untuk mewujudkan impian ini”. Ia berinisiatif untuk mengikuti jejak sang Master. Dengan cara itu, ia yakin pensilnya akan membawa menuju sebuah kesuksesan. Meski kecil kemungkinan sang pensil bertransformasi menjadi pena emas.

Kemudian sebuah peluang muncul dengan adanya sebuah lomba karya tulis ilmiah bertajuk “Semangat Berkarya Anak Negeri untuk Indonesia Lebih Lestari”. Ia berfikir bahwa pensilnya itu akan mewujudkan sebuah impian yang rasanya takkan mungkin bisa dicapai oleh seorang dengan usia yang masih teramat belia. Meraih Goblet of Bioexpo, piala bagi pemenang LKTI tersebut.

Ia pun mulai memutar otak memikirkan karya apa yang akan ia buat dengan pensilnya. Setelah mendapat inspirasi, pekerjaan pun dimulai. Anggapannya itu adalah ide terbaik yang bisa dilakukannya. Namun, ternyata anggapan itu kurang tepat.

Mendapat masukan dari seorang dosen yang membimbingnya, dengan pengetahuan dan pengalaman yang jauh lebih baik darinya, anggapan itu pun terpatahkan. Masukan sang dosen membuat idenya berkali-kali lipat lebih baik dari sebelumnya. Ibu Yuli Rodiah, sang dosen yang membuat Ardi sadar bahwa ia tidak akan bisa membuat suatu yang dapat menggemparkan dunia hanya dengan idenya sendiri. Dibutuhkan kerja sama yang akan membuat menyempurnakan ide-ide di benaknya.

Lalu ia mencari teman yang dapat membantunya bertukar fikiran. Anggota pertama telah terpilih, namanya Rahmat Aulani, teman sekelasnya. Ternyata tak selalu mudah, seorang teman yang diajak bekerja sama malah menolak tawarannya mentah-mentah. Ini membuatnya sedikit pesimis, entah ia menolak karena ketidakyakinannya pada pensil yang tidak bernilai itu, atau entah apa lah, yang jelas ia menolak.

Di tengah rasa pesimis itu, muncullah seorang sahabat yang bisa dibilang sebagai pahlawan yang mengembalikan semangatnya untuk merebut Goblet of Bioexpo. Doni Putra Pratama. Doni berhasil mengembalikan semangat kedua pemegang pensil. Terbentuknya sebuah grup, yang merupakan kumpulan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Bengkulu dari angkatan termuda, penciptaan karya pun dimulai.

Dengan berbagai halangan dan rintangan, ketiga pemegang pensil inipun berhasil menyelesaikan karya sederhananya. Karya ilmiah berjudul "Biohybrid Coffee System (BICOS): Upaya Pemulihan Lingkungan dari Pencemaran Limbah Kulit Kopi dengan Memanfaatkannya Sebagai Biobriquetes dengan hasil Samping Biodiesel di Kabupaten Merangin" itupun berhasil dikirimkan. Jantung mereka terus berdegup kencang sembari menunggu pengumuman finalis Bioexpo ini. Setelah menanti dalam waktu yang cukup lama, akhirnya nama-nama finalis lomba karya tulis diumumkan. Ternyata nama mereka ada di salah satu dari sepuluh kursi finalis yang tersedia. Benar-benar tak disangka, tiga pemuda yang belum setahun duduk di bangku kuliah ini berhasil menyingkirkan ratusan pesaingnya. Namun perjuangan belum selesai, masih ada tantangan selanjutnya untuk membawa pulang Goblet of Bioexpo, yaitu tahap presentasi.

Bertiga mereka menuju Jambi. Berbagai halang dan rintang mereka tak gentar menghadapi. Mulai dari masalah kuliah, miskomunikasi, bahkan kehabisan tiket pun dialami. Meski akhirnya terlambat, mereka tetap tiba di Jambi, Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Pukul 01.56 dini hari, 28 Maret 2013, mereka menginjakkan kakinya untuk yang pertama kali di Provinsi Jambi, tempat penyelenggaraan event Goblet of Bioexpo. Dengan penuh kebingungan, mau kemana di tengah malam seperti ini. Panitia yang disiagakan pun tak berhasil menemukan mereka di tengah malam yang gelap gulita. Terpaksa mereka mencari sendiri dimana asrama tempat mereka akan berdiam selama disana.

Keteguhan hati mereka tidak sia-sia. Mereka pun sampai dengan selamat di depan asrama yang dituju, entah bagaimana caranya. Para pemegang pensil disambut oleh serombongan panitia di halaman depan asrama. Perbincangan kecilpun dimulai untuk sekedar mencairkan suasana walaupun hanya sekedar basa-basi. Mulai dari perbincangan mengenai kendaraan apa yang digunakan, lama perjalanan, juga bagaimana proses perjalanannya. Dalam hati mereka berkata bahwa mereka tidak menyangka bisa sampai di tujuan dengan selamat walaupun waktu telah menunjukkan pukul 2 subuh. Lalu mereka diantarkan menuju kamarnya.

Sampai di kamar pun mereka tak dapat berleha-leha. Bukannya berelaksasi meluruskan kaki, mereka harus langsung  mempersiapkan diri untuk presentasi di pagi harinya. Mereka sadar bahwa tanpa persiapan yang baik, semua kerja keras itu akan sia-sia. Semua kesempatan harus dioptimalkan untuk memberikan yang terbaik.

Pagi pun tiba, waktu pertandingan tinggal hanya dalam hitungan jam lagi. Rasa guguppun mulai menyeruak karena ini pengalaman tingkat nasional pertama. Bahkan mulai timbul rasa tidak percaya diri di salah satu pemegang pensil ini. Bersama-sama, keyakinan pun berangsur-angsur pulih. “Kami di sini untuk menang”, pekik mereka.

Tak berapa lama pertarungan pun dimulai dan suasana pun penuh ketegangan. Kompetisi dimulai dengan presentasi dari tuan rumah Universitas Jambi. Presentasi yang rasanya luar biasa, membuat semua semakin cemas, khawatir tak mampu menampilkan yang terbaik. Lalu dilanjutkan dengan Universitas Negeri Sebelas Maret 1, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret 2, Universitas Brawijaya, IKIP PGRI Madiun, dan akhirnya saat itu pun tiba. Universitas Bengkulu, ketiga pemegang pensil pun maju ke depan.

Rahmat Aulani, Doni Putra Pratama, dan Ardiansyah bergantian menyampaikan karya mereka. Tidak mulus. Rasa grogi, tegang, demam panggung dan waktu yang  memburu membuat yang membuat mereka tampil kaku dengan lisan yang terbata-bata harus ditaklukkan. Namun perlahan semuanya mulai teratasi. Wajah yang tadinya murung dan pucat pasi mulai berseri. Ardiansyah sebagai penampil terakhir, karena gugupnya sempat salah tingkah, sinar pointer laser bahkan mengarah rekannya dan wajahnya sendiri membuat audience terbahak menyebabkannya hampir kehilangan fokus. Namun begitu, keyakinan yang kuat mengembalikan konsentrasinya hingga presentasi dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Mereka merasa cukup banyak kelemahan dan kesalahan dalam penampilan mereka. Tak apalah. Ini pengalaman pertama. Yang terpenting mereka sudah berusaha dan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dalam benaknya, kalaupun belum sekarang, masih banyak kesempatan di waktu yang akan datang. Pengalaman ini adalah sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya. Sekarang semua sudah merasa lega, tinggal menunggu hasilnya.

Keesokan harinya tibalah waktu pengumuman. Tidak ada sedikitpun harapan di benak bahwa mereka akan merebut piala tersebut. Namun mereka senang telah berhasil menggapai semua ini. Mereka mendapatkan sebuah pengalaman berharga yang belum tentu bisa didapatkan oleh setiap orang. Namun demikian, pemenangnya haruslah tetap ada siapapun itu. Hingga tibalah waktunya diumumkan siapakah yang berhasil membawa pulang Goblet of Bioexpo.

Pengumuman dimulai dengan menyebutkan juara ketiga. Semua peserta harap-harap cemas karena mereka semua ingin juara. Para pemegang pensil berfikir tak akan menjadi pemenang pertama bahkan kedua saat melihat saingan mereka yang tangguh-tangguh. “Dan juara ketiga jatuh kepada.....” MC membuat semua peserta tambah tegang, “setelah persembahan musik berikut ini”. “Huuuuuu” semua peserta tampak sedikit kesal. Setelah pertunjukan musik selesai, MC kembali memberi harapan bahwa akan diumumkan pemenangnya. Dan lagi-lagi harapan itu pupus dengan harus terlebih dahulu menunggu sebuah performance tarian tradisional khas Jambi. Berkali-kali peserta diberi harapan palsu hingga akhirnya suasana semakin tegang.

“Universitas Sebelas Maret 2”. Suara MC melalui pengeras suara membuat peserta lainnya sangat kecewa terutama bagi para pemegang pensil, Universitas Bengkulu. Mereka seperti baru saja seperti kehilangan sebuah harapan karena mereka sadar bahwa masih ada dua kandidat terberat yaitu Universitas Jambi dan Universitas Diponegoro yang berkemungkinan besar akan merebut posisi kedua dan pertama. Lalu pengumuman juara keduapun dilakukan. Dan tepat sesuai dugaan, “Dan yang berhasil merebut posisi kedua adalah Universitas Jambi”. Semua peserta tidak dibuatnya heran lagi bahwa tim Unja, yang berhasil memikat para juri dengan presentasinya yang memukau, berhasil merebut posisi kedua.

Harapan hampir pupus. Rasanya tak mungkin lagi mereka merengkuh piala karena sekarang tinggal menunggu pengumuman pemenang pertama. Rasanya piala itu pastilah menjadi milik Universitas Diponegoro. “Pemenang pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional Bioexpo Unja yang berhasil membawa Goblet of Bioexpo adalah …” semua terdiam.

“Universitas Bengkulu!” Semua tercengang, tak ada yang menyangka. Para pemegang pensil masih tak percaya bahwa angkatan termuda yang baru pertama kali ikut perlombaan semacam ini telah berhasil mengalahkan semua peserta dari seluruh penjuru negeri. Tepuk tangan riuh dan senyum kagum dari semua mata yang memandang mereka.

Pensil yang dianggap tak berharga itu pun kini mulai bermetamorfosis menuju pena emas. Para pemegangnya sudah membuktikan bahwa usaha yang keras dibarengi dengan kerjasama yang solid segala rintangan pasti dapat dilalui, tak peduli meski mereka masih berusia muda. Mereka berharap pencapaian ini akan menginspirasi semua mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Bengkulu, untuk bersemangat untuk berprestasi dan mengguncang dunia.

Selamat para pemegang pensil!

Oleh: Ardiansyah, ERCOM 8
Disunting oleh Admin

isuzu cikarang isuzu cikarang bekasi jakarta isuzu giga isuzu giga isuzu giga isuzu elf isuzu panther Dealer Isuzu Bekasi Cibitung Cikarang isuzu elf isuzu giga elf sparepart isuzu kredit isuzu harga isuzu promo isuzu dealer isuzu isuzu isuzu mobil isuzu bekasi isuzu online isuzu kita promo isuzu promo isuzu isuzu giga isuzu panther isuzu elf paket umroh Resep Masakan Resep Masakan